Tulisan Berjalan

SUKSES KOMUNITAS MAJU JOS, AKHIRNYA BIMBINGAN DIGITAL MARKETING SECARA GRATIS TANPA BATAS TELAH MEMBERI MANFAAT BESAR

Senin, 16 Juli 2012

Jihad dengan Ilmu



PDFCetakSurel
Tasawuf
Ditulis oleh Rudhy Suharto   
Minggu, 01 Juli 2012 18:40
Saat ini, umat Islam hidup dalam era globalisasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi.  Namun demikian, umat Islam  saat ini sedang ketinggalan dari umat lain dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan pendidikan. Keadaan ini tentu saja tidak bisa dibiarkan, umat  Islam haruslah berjihad untuk mengejar ketertinggalannya di banyak bidang kehidupan tersebut.

Inilah jihad utama bagi umat Islam saat ini. Suatu kebutuhan yang mendesak perlu dilakukan oleh setiap Muslim, kapanpun dan di manapun ia berada. Karena tanpa kemajuan ilmu maka umat Islam akan tertinggal dalam bidang-bidang lainnya. Hanya saja, sejauh ini kata jihad dalam Islam masih kerap dimanipulasi demi kepentingan pribadi atau suatu kelompok tertentu. Padahal spektrum pengertian jihad itu sangatlah luas.
Banyak ulama-ulama besar seperti  pembaru asal Mesir, Syekh Muhammad Abduh,   Imam Ibnul Qayim, dan Syekh Thanthawi Jauhari, memberikan uraian tentang jihad berdasarkan Islam (al-Quran dan Sunnah). Para ulama besar di atas berkata, “Orang-orang kurang mengerti, menyangka bahwa jihad itu tidak lain adalah berperang dengan kafir. Sekali-kali tidaklah begitu, jihad itu mengandung arti, maksud, dan tujuan yang luas, memajukan pertanian, ekonomi, membangun negara, serta meninggikan budi pekerti umat termasuk jihad yang tidak kalah pentingnya dari berperang.”
Di lihat dari kontek ini maka menyebarkan ilmu adalah ibadah dan jihad. Demikian pula jihad melawan hawa nafsu dengan meninggalkan kemalasan, ketidakseriusan, kemudian bersikap disiplin, kerja keras, meningkatkan kualitas umat, menuntut ilmu di manapun dan kapanpun, serta meningkatkan akhlak masyarakat, adalah merupakan bentuk jihad. Maka barangsiapa yang melakukan apa yang telah dipaparkan di atas, sesungguhnya mereka adalah para mujahidin (orang-orang yang melakukan jihad)
Allah   memerintahkan NabiNya yang pada waktu itu berada di Mekkah untuk berjihad kepada kaum musyrikin  dengan ilmu. Allah   berfirman, “Artinya, “Maka janganlah engkau mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Quran dengan jihad yang besar.” [al-Furqon : 53] Yaitu berjihad “ dengan ilmu” dan “dengan al-Quran”.
Karena dengan ilmu, maka  kebaikan dan pengaruhnya akan bersemayam di hati manusia. Penuntut ilmu itu akan mempengaruhi dan menyebarkan kebaikan.  Adapun orang yang shalih  itu hanya bagi dirinya sendiri, tidaklah memberi pengaruh kecuali kepada dirinya sendiri. Maka tidak syak lagi keutamaan ilmu sangat agung. Jika seseorang siap untuk mengajarkan (ilmu) di negerinya maka hal ini akan membawa kebaikan bagi banyak orang. Betapa mulianya orang seperti itu di mata Allah dan juga manusia.
Oleh karena itu jihad yang paling utama terhadap musuh-musuh Allah   dan setan adalah menyebarkan ilmu. Sebarkanlah ilmu di setiap tempat sesuai kemampuanmu dan bertakwalah kepada Allah. Sehingga tak ada doa yang pantas diucapkan oleh seorang yang ingin berjihad di jalan Allah,  dengan doa yang berbunyi,  “Ya Allah tambahkanlah kepadaku ilmu.” [QS.Thaha : 114]

Enam Perkara Untuk Menuntut Ilmu



PDFCetakSurel
Tasawuf
Ditulis oleh Rudhy Suharto   
Senin, 11 Juni 2012 22:51
Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu, melainkan dengan enam perkara. Kukabarkan kepadamu rinciannya dengan jelas. Kecerdasan, kemauan keras, bersungguh-sungguh, bekal yang cukup, bimbingan ustadz dan wakunya yang lama. (Imam asy-Syafi'i)
Syair itu ditulis Imam Syafii berkenaan dengan luasnya ilmu yang dimilikinya. Imam Syafii dikenal sebagai imam mazhab fikih dalam Ahlusunnah. Keluasan ilmunya diakui kalangan ulama terkemuka. Ini terbukti pendapat-pendapatnya yang tetap menjadi rujukan hingga sekarang. Nah, Imam Syafii dalam syair di atas menyebut ada enam perkara agar seseorang berhasil dalam menuntut ilmu.
Imam Syafii menyebut syarat pertama untuk seseorang berhasil menuntut ilmu adalah faktor kecerdasan. Kecerdasan ini modal pokok menuntut ilmu. Jika fondasi ini lemah maka seseorang akan terhalang untuk mendapatkan ilmu. Seseorang yang cerdas akan  mudah menerima pelajaran, menghafal, menyerap, memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi kecerdasan itu tidaklah cukup, ia juga harus ditambah dengan kemauan keras. Ini suatu sikap bersungguh-sungguh untuk menuntut ilmu.  Karena begitu banyak seseorang yang cerdas dan pandai yang diterima di banyak perguruan tinggi akan tetapi setelah itu kemauan dia akan belajar melemah jadi hal itu tidak membawa manfaat baginya. Rasulullah saw pun bersabda “Bersemangatlah untuk mencapai apa-apa yang bermanfaat bagimu” (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Majah dari Abu Hurairoh). Dalam hal ini tentu saja menuntut ilmu merupakan bagian yang bermanfaat bagi kehidupan seseorang.
Syarat ketiga adalah bersungguh-sungguh. Setelah Anda mempunyai modal kecerdasan, kemauan yang keras kemudian Anda harus bersungguh-sungguh. Maksudnya, Anda harus benar-benar tekun, telaten dalam menuntut ilmu. Tanpa syarat ini jangan harap Anda berhasil, karena faktor keseriusan ini juga merupakan hal yang penting.
Hal yang berikutnya adalah kita harus mempunyai bekal yang cukup. Untuk belajar kita harus punya  di antaranya, uang, buku, makanan, alat tulis, kendaraan, komputer, kamar nyaman untuk belajar, dll. Banyak orang yang akhirnya gagal karena terbentur karena masalah ini. Namun, insya Allah dengan kesungguhan masalah ini dapat teratasi, misalnya dengan kepandaian, Anda akan mendapat beasiswa.
Imam Syafii menyebut bimbingan seorang guru sebagai syarat kelima. Seorang guru akan mempermudah kita dalam menuntut ilmu,  dia lah yang akan mengajarkan kepada kita agar tidak terjerumus kepada kesalahan yang tidak perlu. Cara ini lebih efektif, efisien dan ilmu yang Anda peroleh lebih sempurna. Dengan bimbingan guru; Anda bisa berdiskusi dengan guru anda, ada proses memberi dan menerima (feedback), dapat  menghemat waktu dalam mempelajari sebuah buku, dan bisa memahami dengan cepat tentang materi.
Sedangkan syarat ke enam, menurut Imam Syafii itu adalah sabar dalam hal waktu. Belajar itu membutuhkan waktu yang tidak singkat, bahkan terkadang cukup lama.  Contohnya, jika Anda ingin menjadi seorang dokter, tentu tidak dapat dengan hanya mengikuti kursus kilat, tapi Anda harus belajar di fakultas kedokteran yang memakan waktu bisa  bertahun-tahun.
Dengan demikian, dalam menuntut ilmu  kita dituntut untuk bersabar dan istiqamah. Hanya dengan cara inilah kita dapat berhasil menuntut ilmu.

Sabtu, 14 Juli 2012

Petugas Haji Diminta Perhatikan Layanan Katering dan Pemondokan



Foto
Jakarta (Pinmas)— Petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Arab Saudi 1433 H diminta memperhatikan pelayanan perumahan dan katering, mengingat dua masalah ini yang sekalu menjadi pertanyaan jemaah.
Direktur Pembinaan Haji Kementerian Agama Ahmad Kartono ketika menutup pembekalan petugas haji 2012 di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa sesungguhnya semua unsur pelayanan harus menjadi perhatian petugas. Akan tetapi, dari tahun ke tahun, dua permasalahan itu selalu menjadi perhatian jemaah.
Oleh karena itu, selama pembekalan petugas selalu diingatkan untuk memperhatikan dan memberi penjelasan semaksimal mungkin tentang kedua fasilitas tersebut. Kartono juga mengingatkan agar petugas tidak membeda-bedakan pelayanan kepada jemaah.
“Semuanya harus diperlakukan sama. Sesuai dengan janji petugas maka jemaah berhak mendapat layanan lima S, salam, sapa, senyum, sopan, dan santun,” kata Kartono.
Ketika ditanya tentang kualitas petugas tahun ini, Kartono mengatakan bahwa secara umum kualitasnya meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, termasuk tingkat kehadiran peserta.
Ia berharap petugas haji tahun ini mampu meningkatkan kualitas layanan dibandingkan tahun lalu. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik, tingkat kepuasan jemaah tahun lalu sebesar 83,5 persen.
“Kita berharap tahun ini tingkat kepuasan jemaah bisa meningkat di atas 83,5 persen. Minimal 84 persen,” kata Kartono.
Petugas haji tahun 2012 sebanyak 830 orang yang diseleksi dari pelamar sekitar 18.000 orang, katanya. (rep)

Sekjen: Perpres BPIH Diperkirakan Turun Bulan Ramadhan



Jumat, 13 Juli 2012 –
Foto
Jakarta(Pinmas)—Sekjen Kementerian Agama Bahrul Hayat menyatakan, Perpres Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) atau ongkos naik haji/ONH diperkirakan akan terbit pada bulan Ramadhan, dan sekarang ini sudah diajukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk ditandatangani.
Besaran BPIH 2012 yang merupakan hasil kesepakatan antara Kemenag dan DPR sudah diajukan kepada Presiden SBY, kata Bahrul di Jakarta, Jumat.
“Kita sudah menyampaikan hasil kesepakatan di DPR ke presiden. Mudah-mudahan sebelum Ramadhan sudah terbit sehingga bisa segera dilakukan pelunasan,” katanya kepada wartawan.
Jadi, katanya, kalau perpres sudah keluar sebelum bulan ramadhan, akan diupayakan pelunasan BPIHselama bulan Ramadhan. Mekanisme pelunasan didasarkan pada peraturan menteri, masa pelunasan maksimal dua kali perpanjangan.
Ia menjelaskan, kemungkinan besar tidak akan ada perubahan lagi. Sebab, itu merupakan bagian dari usaha maksimal yang bisa dilakukan pemerintah dan DPR. “Saya kira itu angka yang sudah cukup ideal untuk bisa kita lakukan di tengah terjadinya peningkatan biaya sejumlah komponen haji seperti harga pemondokan di Mekkah dan harga penerbangan,” tambahnya.
Harga riil biaya haji baru bisa diketahui ketika dilakukan masa pelunasan berdasarkan kurs rupiah terhadap dolar pada hari pelunasan, sebab menetapkan BPIH berdasarkan mata uang dolar AS. Jadi harga pasti BPIH berdasarkan rupiah didasarkan pada kurs pada hari dilakukan pelunasan, sehingga ada kemungkinan BPIH dalam perhitungan rupiah mengalami penurunan dan kenaikan. (ant/ess)

Amalan Menyambut Ramadhan



Tidak terasa bulan Sya’ban telah bergulir hampir separuh perjalanan. Itu artinya waktu semakin mendekati bulan Ramadhan. Sudah maklum bagi kita semua keistimewaan bulan Ramadhan. Hal ini bisa terasakan pada kehidupan di sekitar kita.Tidak hanya harga sembako yang secara perlahan tapi pasti mulai beranjak naik, tetapi juga semangat beribadah semua orang dari anak-anak hingga nenek-nenekpun semakin bertambah. Bahkan masjid dan mushalla mulai berbenah diri untuk menyambut, tarawih, tadarrus dan buka bersama.
Lantas apa semua amalan-amalan yang sebaiknya dilakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan ini?
Pertama, amalan terpenting itu adalah amalan hati, yaitu niat menyambut bulan Ramadhan dengan lapang hati (ikhlas) dan gembira. Karena hal itu dapat menjauhkan diri dari api nereka.
Sebuah hadits yang termaktub dalam Durrotun Nasihin menjelaskan dengan.
مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ
Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.
Begitu mulianya bulan Ramadhan sehingga untuk menyambutnya saja, Allah telah menggaransi kita selamat dari api neraka. Oleh karena itu wajar jika para ulama salaf terdahulu selalu mengucapkan doa:
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ
"Ya Allah sampaikanlah aku dengan selamat ke Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan aku hingga selesai Ramadhan".
Sampai kepada Ramadhan adalah kebahagiaan yang luar biasa, karena hanya di bulan itu mereka bisa mendapatkan nikmat dan karunia Allah yang tidak terkira. Tidak mengherankan jika kemudian Nabi saw dan para sahabat menyambut Ramadhan dengan senyum dan tahmid, dan melepas kepergian Ramadhan dengan tangis.
Keduaberziarah ke makam orangtua; mengirim doa untuk mereka yang oleh sebagain daerah dikenal dengan istilah kirim dongo poso. Yaitu mengirim doa untuk para leluhur dan sekaligus bertawassul kepada mereka semoga diberi keselamatan dan berkah dalam menjalankan puasa selama sebulan mendatang. Tawassul dalam berdo’a merupakan anjuran dalam islam. Sebagaimana termaktub dalam Surat al-Maidah ayat 35
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. al-Maidah35).
Diriwayatkan pula dari sahabat Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulallah Muhammad s.a.w ketika menguburkan Fatimah binti Asad, ibu dari sahabat Ali bin Abi Thalib, beliau berdoa :
 اَللَّهُمَّ بٍحَقٍّيْ وَحَقِّ الأنْبٍيَاءِ مِنْ قَبْلِيْ اغْفِرْلأُمِّيْ بَعْدَ أُمِّيْ
Artinya: Ya Allah dengan hakku dan hak-hak para nabi sebelumku, Ampunilah dosa ibuku setelah  Engkau ampuni ibu kandungku. (H.R.Thabrani, Abu Naim, dan al-Haitsami) dan lain-lain.
Ketiga, saling memaafkan. Mengingat bulan Ramadhan adalah bulan suci, maka tradisi bersucipun menjadi sangat seseuai ketika menghadapi bulan Ramadhan. Baik bersuci secar lahir seperti membersihkan rumah dan pekarangannya dan mengecat kembali mushalla, maupun bersuci secara bathin yang biasanya diterjemahkan dengan saling memaafkan antar sesama umat muslim. Terutama keluarga, tetangga dan kawan-kawan. Hal ini sesuai dengan anjuran Islam dalam al-Baqarah ayat 178;
 ...فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ
 Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.(QS. 2:178)
Menurut sebuah hadis shahih, Nabi Muhammad saw. Pernah menganjurkan agar siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baiknya itu menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini, sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas (bisa dengan menebus, bisa dengan meminta halal, atau meminta maaf). Sebab nanti di akherat sudah tidak ada lagi uang untuk tebus menebus. Orang yang mempunyai tanggungan dan belum meminta halal ketika dunia, kelak akan diperhitungkan dengan amalnya: apabila dia punya amal saleh, dari amal salehnya itulah tanggungannya akan ditebus; bila tidak memiliki, maka dosa atas orang yang disalahinya akan ditimpakan kepadanya, dengan ukuran tanggungannya. (Lihat misalnya, jawahir al-Bukhori, hlm. 275, hadis nomer: 353 dan shahih Muslim, II/430).
Dengan kata lain, jika seseorang ingin bebas dari kesalahan sesama manusia, hendaklah meminta maaf kepada yang bersangkutan. Begitu pula jika seseorang menginginkan kesucian diri guna menyambut bulan yang suci maka hendaklah saling memafkan.

ONH Naik, Bukti Penyelenggaraan Haji Untuk Bisnis



Jakarta-Kenaikan Ongkos Naik Haji (ONH) tahun ini mem-perlihatkan bahwa penyelenggaraan haji ini menjadi komo¬ditas bisnis bagi kementrian agama. Karena seharusnya ONH bisa turun menjadi di bawah Rp27 juta.
“ONH sebesar Rp34 juta itu terlalu mahal dan sangat mem¬bebani para jemaah. Padahal, pada tahun 2011, ONH hanya sekitar Rp 30,7 juta,” kata Koordinator Advokasi Fitra, Uchok Sky Khadafy.
Menurutnya, besarnya biaya haji yang dikelola, Kemenag bisa investasi. Dengan banyak keun¬tungan¬nya bisa dikembalikan kepada jaemaah haji, atau digunakan untuk mensubsidi jemaah tahun berikutnya.
“Dana Abadi Umat (DAU) yang berasal dari setoran awal je¬maah haji dan dikelola Ke¬menag sebesar Rp806,7 miliar, misalnya. Dari uang itu, se¬mestinya pe¬me¬rintah bisa me¬nekan ongkos haji seminimal mungkin, atau diberlakukan subsidi ONH,” ujar Ucok.
DESAK DIBATALKAN
Adapun keuntungan ongkos naik haji yang telah di¬investasi Kemenag, pada 3 Maret 2010 pada Surat Ber¬harga Syariah Negara (SBSN) seri SDHI 2012 A bernilai nominal Rp447 miliar. Investasi itu sudah jatuh tempo pada 3 Maret lalu, dengan suku bunga per tahun 7,61 persen. Selain itu juga investa¬si-kan pada SBSN senilai Rp 336 miliar yang akan jatuh tem¬po pada 25 Agustus 2014, de¬ngan suku bunga 7,30 persen per tahun.
“Selain itu juga ada saham BMI (Bank Muamalat Indone¬sia) 19.990.000 lem¬bar dengan nilai Rp 1000 per sa¬ham atau sebesar Rp 19,9 miliar. Saat ini, penyertaan saham pada BMI sudah beranak pinak mencapai Rp 23,7 miliar,” katanya.
Karena itu, Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) mendesak Kemenag membatal¬kan renca¬na kenaikan ongkos ha¬ji tahun ini, dan menerapkan sistem transparansi dan akun¬tabilitas keuangan haji.(poskota)

Jumat, 13 Juli 2012

Membangun Komunitas Zakat Untuk Kesejahteraan Masyarakat




Sejak beberapa tahun terakhir, kesadaran masyarakat untuk berzakat di tanah air kita cukup tinggi. Hal itu antara lain ditunjukkan dengan meningkatnya penerimaan dana zakat, infaq dan shadaqah yang dihimpun dari masyarakat pada hampir semua lembaga zakat. Jika kesadaran tersebut, baik di level perorangan maupun institusi/perusahaan (korporasi) terus tumbuh untuk menunaikan zakat, maka output yang dicapai insya Allah akan lebih signifikan. Artinya, kontribusi zakat dalam mengatasi masalah kemiskinan dan problema sosial lainnya di negara kita, seperti sering terungkap melalui berbagai hasil penelitian dan kajian, akan terwujud sebagaimana diharapkan.
Dalam rangka penguatan dan pembinaan kesadaran berzakat yang bersifat masif, konsisten dan total, perlu membangun apa yang disebut sebagai “komunitas zakat”. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Badudu-Zain (Pustaka Sinar Harapan, 1994), komunitas diartikan “sebagai kesatuan yang terdiri atas individu-individu; (dan) masyarakat.”Sesuai pengertian menurut bahasa, maka yang dimaksud dengan istilah komunitas zakat disini adalah kesatuan yang terdiri atas individu-individu dan masyarakat yang sadar, peduli, bertanggung jawab, dan memiliki keterlibatan secara moral, pemikiran dan operasional dalam perzakatan, baik selaku muzaki, amil, mustahik, pemerintah, media massa, dan seterusnya.
Untuk membangun komunitas zakat sebagaimana dimaksud di atas, amil merupakan salah satu komponen yang memiliki peranan dan tanggung jawab strategis. Oleh karena itu, perekrutan amil tidak boleh dilakukan secara sembarangan dan tanpa kriteria yang jelas, tetapi amil harus memenuhi syarat memiliki dasar agama yang kuat, akhlakul karimah, kompetensi pengetahuan tentang fiqih zakat dan tata kelolanya, memiliki kecerdasan secara intelektual, emosional, sosial dan spiritual, dan memiliki kemauan untuk terus belajar dalam rangka penunjang tugas keamilan. Di samping itu, amil juga harus pandai memanfaatkan media, seperti media cetak, elektronik maupun “jejaring sosial” dalam rangka sosialisasi dan edukasi zakat.
Di samping itu, hubungan dan pola komunikasi yang harus terbina antara amil dengan muzakki maupun mustahik, bukan hanya hubungan transaksional, yakni menerima pembayaran zakat, mengadministrasikan dan menyalurannya, akan tetapi amil sekaligus harus mampu berperan sebagai “sahabat spiritual”(meminjam istilah Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama) bagi para muzakki dan mustahik yang dilayaninya.
Selanjutnya untuk menggali potensi zakat yang besar di negara kita, menurut penelitan tahun 2011 mencapai Rp 217 triliun per tahun, paling tidak diperlukan empat langkah yang harus dilakukan secara simultan.
Pertama, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait dengan hukum dan hikmah zakat, harta objek zakat sekaligus tata cara perhitungannya, serta kaitan zakat dengan pajak.
Kedua, penguatan keamilan, sebagaimana telah dijelaskan dimuka, karena amil adalah “tulang punggung” dalam pengelolaan zakat. Kinerja amil akan menjadi cerminan keberhasilan pengelolaan zakat. Untuk itu, amil perlu memiliki data base mustahik dan muzaki yang akurat dan up to date sehingga pengumpulan dan penyaluran zakat dapat dipetakan dengan baik.
Ketiga, penyaluran zakat yang tepat sasaran sesuai dengan ketentuan syariah dan memperhatikan aspek-aspek manajemen yang transparan. Misalnya, zakat di samping diberikan secara konsumtif untuk memenuhi kebutuhan primer secara langsung (QS Al-Baqarah : 273), juga diberikan untuk meningkatkan kegiatan usaha dan kerja mustahik/zakat produktif (al-hadist).
Keempat, sinergi dan koordinasi atau
taawun baik antarsesama amil zakat (tingkat daerah, nasional, regional, dan internasional) maupun dengan komponen umat yang lain seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), lembaga-lembaga pemerintah, organisasi-organisasi Islam, lembaga pendidikan Islam, perguruan tinggi, media massa, dan lain-lain.
Keempat langkah di atas merupakan agenda utama dan agenda bersama yang tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun komunitas zakat di tanah air kita.
Wallahu a’lam bishawab.
Ditulis oleh Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc (Ketua Umum BAZNAS)