Tulisan Berjalan

SUKSES KOMUNITAS MAJU JOS, AKHIRNYA BIMBINGAN DIGITAL MARKETING SECARA GRATIS TANPA BATAS TELAH MEMBERI MANFAAT BESAR

Sabtu, 24 Maret 2012

Ziarah Kubur Itu Sunnah Tapi Kaum Wahabi Nekad Menghina Para Penziarah Kubur


Selama ini kaum Wahabi yang dipelopori oleh ustadz-ustadz mereka selalu nekad meneriaki para peziarah kubur sebagai kuburiyyun.Maksudnya adalah bahwa para pelaku ziarak kuburitu adalah penyembah kuburan alias musyrik. Alangkah kontradiktifnya mereka itu, di satu sisimereka mengaku-ngaku sebagai penegak sunnah, tapi di sisi lain mereka menghina sunnah dengan hinaan yang tiada tara bandingnya, yaitu : Para pelaku Sunnah Ziarah Kubur dianggapnya musyrik. Na’udzu billah, semoga kita semua selamat dari fitnah mulut-mulut yang mencla – mencle akibat mengekor hawa nafsu.

Nah, untuk lebih memahami apa hukum ziarah kubur, mari kita simak apa yang disampaikan oleh KH. Thobari Syadzily tentang hukum ziarah kubur yang diambil dari kitab ” Nuzhatul Muttaqin Syarah Riyadhus sholihin”. Yuk, kita simak bersama…..

HUKUM ZIARAH KUBUR

hukum ziarah kubur
1. TERJEMAHAN TULISAN FOTO SCAN HALAMAN KITAB DI ATAS
===============================Di dalam kitab “Nuzhatul Muttaqin Syarah Riyadhus Shalihin” jilid 1 halaman 499 masalah hukum ziarah kubur diterangakn sebagai berikut (lihat juga tulisan yang ada di foto tengah!):

باب استحباب زيارة القبر للرجال و ما يقوله الزائر

عن بريدة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها . رواه مسلم . و في رواية : فمن أراد أن يزور القبور فليزر , فانها تذكر نا الأخرة

الحديث رواه مسلم فى الجنائز (باب استئذان النبي صلى الله عليه و سلم ربه عز و جل في زيارة قبر أمه

أفاد الجديث : مشروعية زيارة القبور , و اتفق العلماء على أنها مندوبة للرجال و خاصة لأداء حق نحو والد و صديق , لما فيها من تذكير بالأخرة و ترقيق للقلوب بذكر الموت و أحواله , كما ورد فى الأحاديث * و أما النساء فتكره لهن الزيارة , لما ورد من النهي عن ذلك , و قد تحرم اذا اقترنت زيارتهن بمحظور شرعي , كما اذا خشيت الفتنة أو رفعن أصواتهن بالبكاء , و قد تباح لهن الزيارة اذا قرب المصاب و لم يكن ثمة محظور شرعي * يندب زيارة قبر النبي صلى الله عليه و سلم * جواز النسخ في الشريعة الاسلامية , فقد حرم صلى الله عليه و سلم زيارة القبور أول الأمر لقرب عهد الناس بالجاهلية و ما كان فيها من وثنية و ما كانوا يفعلونه عند القبور من نياحة و غيرهما مما حرم الاسلام , ثم نسخ التحريم بعد أن اتضحت عقيدة التوحيد و رسخت قواعد الاسلام و استبانت أحكامه * على المؤمن أن يذكر نفسه بالموت , و أنه سيكون فى عداد الموتى ان عاجلا أو أجلا

Artinya:
=====
BAB SUNNAH ZIARAH KUBUR BAGI LAKI-LAKI DAN BACAAN YANG DIUCAPKAN OLEH PEZIARAH
Dari Buraidah radiyallahu ‘anhu telah berkata: Rasulullah saw bersabda: “Tadinya aku melarang kalian berziarah, tapi kini berziarahlah kalian ! (Hadits Riwayat Muslim)”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Maka barangsiapa yang ingin ziarah kubur, maka berziarahlah ! Karena, sesungguhnya ziarah kubur itu dapat mengingatkan akherat”.
Hadits Riwayat Muslim Menerangkan Tentang Jenazah (Bab meminta izin Nabi saw kepada Allah swt dalam masalah ziarah ke makam ibu beliau).
Faedah (maksud) Hadits:
===============
Ziarah kubur disyari’atkan dalam Islam. Para ulama telah sepakat menyatakan bahwa ziarah kubur hukumnya disunnahkan bagi kaum laki-laki,khususnya untuk melaksanakan hak seperti: ayah dan teman, mengingat mati, dan melembutkan hati dengan cara mengingat mati berikut tingkah-tingkahnya, sebagaimana keterangan-keterangan yang berlaku di dalam hadits-hadits Nabi saw.
Adapun wanita hukumnya dimakruhkan dalam ziarah kubur. Karena, ada hadits Nabi tentang pelarangan tersebut. Juga ziarah kubur hukumnya diharamkan bagi wanita bilamana diiringi dengan sesuatu yang dilarang menurut syara’. Seperti bilamana takut terjadi fitnah atau kerasnya suara wanita dengan menangis. Begitupula, ziarah kubur hukumnya diperbolehkan bagi wanita bilamana dekat dengan orang yang terkena musibah dan tidak adanya ciri fitnah yang dilarang oleh syara’.
Demikian pula, ziarah ke makam Nabi saw hukumnya disunnahkan. Karena, bolehnya nasakh (perubahan hukum Islam) dalam syari’at Islam. Memang, pada awal perintahan Nabi saw ziarah kubur itu hukumnya diharamkan, karena umat Islam pada masa itu masih ada kedekatannya dengan kebiasaan mereka pada zaman jahiliyah.Juga masih adanya kebiasaan menyembah berhala. Selain itu, mereka juga suka berbuat niyahah (meratapi mayit) atau lainya yang diharamkan ketika melakukan ziarah kubur. Kemudian, hukum haram ziarah kubur tersebut diganti dengan hukum sunnah setelah adanya kejelasan dalam aqidah Islam, tertancapnya kaedah-kaedah dan hukum-hukum Islam di dada mereka.
Dengan demikian, seorang mukmin harus selalu mengingat mati. Karena, mengingat mati adalah persiapannya orang-orang yang akan mati, baik untuk saat ini maupun saat yang akan datang.

ziarah kubur itu sunnah
2. TERJEMAHAN TULISAN FOTO SCAN HALAMAN KITAB DI ATAS
==========================

========== Di dalam kitab “Nuzhatul Muttaqin Syarah Riyadhus Shalihin” jilid 1 halaman 500 masalah ziarah kubur diterangakn sebagai berikut (lihat juga tulisan yang ada di foto di atas!) :

و عن     عائشة رضي الله عنها قالت : كان رسول الله صلى الله عليه و سلم كلما كان ليلتها من رسول الله صلى الله عليه و سلم يخرج من أخر الليل الى البقيع , فيقول : السلام عليكم , دار قوم مؤمنين , و اتاكم ما توعدون , غدا مؤجلون , و انا ان شاء الله بكم لاحكون ! اللهم اغفر لأهل بقيع الغرقد * رواه مسلم

Artinya:
Dari  ‘Aisyah ra berkata: “Setiap Rasulullah saw bergilir bermalam di tempat ‘Aisyah, pada akhir malam beliau keluar menuju ke makam Baqi’, kemudian mengucapkan: Assalaamu ‘alaikum daara qaumin mu’minina wa ataakum maa tuu’aduuna ghadan mu’ajjaluuna, wa innaa insyaa Allaahu bikum laahikuun. Allaahummaghfir li ahli Baqi’il Gharqad (Semoga kesejahteraan dilimpahkan atas kalian wahai penghuni perkampungan kaum mu’minin, dan akan datang kepada kalian apa-apa yang dijanjikan besok pada masa yang telah ditentukan. Dan insya Allah aku akan menyusul kalian. Ya Allah ! Ampunilah dosa-dosa penghuni Baqi’ Gharqad ! (Hadits Riwayat Muslim).
Faedah (maksud) Hadits:
===============
Sunnah hukumnya mengucapkan salam kepada ahli kubur dan bacaan-bacaan yang diucapkan Nabi saw, seperti istighfar.  Begitupula, boleh hukumnya berziarah ke kuburan pada waktu malam hari.
Catatan:
======
Gharqad = Nama sebuah pohon yang berduri, tapi pohon itu sudah ditebang dan tidak ada lagi di pemakaman Baqi’ – Madinah.

Jumat, 23 Maret 2012

Hawa Mengenali Adam: Tulang Rusuk Mengenali Siapa Pemiliknya





Kirim Print
“Sejak diturunkan ke bumi, Hawa terus memikirkan Nabi Adam. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa ia sanggup hidup sendirian di bumi ini? Hawa bertekad untuk bertemu Nabi Adam. Hawa terus berjalan menyusuri bumi. Sesekali ia beristirahat sambil makan buah-buahan. Ia terus berdoa kepada Allah agar segera dipertemukan dengan Nabi Adam. Hawa tiba di sebuah padang pasir dan bukit yang sangat gersang.  Ia sudah sangat kelelahan dan hampir putus asa. Kemudian ia berdoa kepada Allah dengan sangat khusyuk. Rupanya Allah mengabulkan doanya. Hawa melihat sosok yang sangat ia kenali. Ia adalah Nabi Adam. Hawa memanggil Nabi Adam dan Nabi pun memanggil Hawa dengan penuh kerinduan. Inilah saat yang paling membahagiakan bagi mereka.”
Ilustrasi (blogspot.com)
dakwatuna.com - Itulah sepenggal kisah tentang pertemuan Adam dan Hawa di bumi dalam buku “Ensiklopedia Kisah Al-Qur’an” terbitan Gema Insani Press. Mungkin kisah ini pun menggambarkan manusia pada umumnya. Tabiat perempuan yang peduli tergambar jelas dalam penggalan cerita di atas. Hawa terus memikirkan Nabi Adam dan ingin segera bertemu dengan Nabi Adam. Apa alasannya? Ternyata, bukan karena sekadar melepas rindu dirinya pada Adam, tapi lebih memikirkan bagaimana keadaan Nabi Adam sekarang? Apakah Adam sanggup hidup sendiri di bumi? Hawa tak memikirkan dirinya sendiri. Itulah sifat dasar perempuan, ketika memutuskan sesuatu ia selalu mempertimbangkan orang lain bukan hanya kepentingan dirinya sendiri.
Ya, karena Allah menciptakan Hawa untuk menemani Adam ketika di syurga. Allah tahu bahwa Adam tak bisa hidup sendiri. Walaupun dengan kenikmatan-kenikmatan syurga yang telah ia dapatkan, tetap saja seorang Adam membutuhkan teman. Maka, Allah ciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam untuk menemani Adam di syurga.
Ketika diturunkan ke bumi dan mereka berpisah, maka naluri masing-masing pasti akan saling mencari. Dan dalam pencarian di sini digambarkan secara jelas kekhawatiran Hawa akan kondisi Adam di bumi: sanggupkah Adam hidup sendirian?
Hawa pun terus berusaha menelusuri bumi demi bertemu Adam. Uniknya, di buku ini tak diceritakan bagaimana usaha Adam menemukan Hawa, tapi lebih kepada bagaimana usaha Hawa menemukan Adam. Pastinya tak bisa dipungkiri juga bahwa tentunya Adam pun berusaha keras untuk bertemu dengan Hawa karena di syurga yang penuh kenikmatan saja Adam membutuhkan seorang teman, bagaimana dengan ketika di bumi yang berbeda jauh dari segi kenikmatan di syurga?  Tentu Adam sangat membutuhkan seorang teman terlebih ketika berada di bumi. Dan tentunya ada rasa kehilangan ketika Hawa yang biasanya menemaninya di syurga tak ada di sisinya.
Memang agak sedikit berbeda, penggambaran pertemuan itu diangkat dari sisi Hawa yang berusaha bertemu Adam. Tak diceritakan pencarian seorang Adam namun lebih ditekankan pada pencarian seorang Hawa yang menunjukkan rasa pedulinya pada Adam. Hawa terus berjalan, beristirahat, berdoa di tengah lelah. Hingga akhirnya di tengah lelah yang begitu sangat dan dalam kondisi hampir putus asa, di gurun pasir yang panas dan gersang, doa khusyuknya dikabulkan Allah dan dipertemukanlah ia dengan sosok yang ia kenal. Ya, ternyata Hawa-lah yang mengenali Adam lebih dulu ketika bertemu. Sungguh, tulang rusuk mengenali siapa pemiliknya.
Mungkin akan terlontar pertanyaan begini: “Nabi Adam dan Hawa itu kan cuma dua-duanya manusia di bumi. Jadi ketika bertemu mudah untuk saling mengenali. Lantas bagaimana dengan kita yang jumlah penduduk bumi sudah sekian milyar banyaknya? Bagaimana kita bisa tahu bahwa dialah tulang rusuk kita (bagi laki-laki) atau dialah pemilik tulang rusuk ini (bagi perempuan)?
Di sinilah letak proses ta’aruf itu berperan. Tentunya ta’aruf yang syar’i, bukan sekadar kata ta’aruf namun jauh nilai-nilainya dari sebuah proses ta’aruf. Ta’aruf lah ajang saling mengenal yang [katanya] akan terasakan di sana siapa tulang rusuk atau pemilik tulang rusuk kita.
Mari kutunjukkan kisah dua orang akhwat. Ada seorang akhwat yang merasa klop dengan seorang ikhwan, merasa saling cocok, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk ta’aruf. Dalam proses ta’aruf, ternyata istikharah sang akhwat tak mantap dan ada keraguan di sana. Ta’aruf pun kandas di tengah jalan. Awalnya sebelum ta’aruf, sang akhwat menganggap bahwa ikhwan itulah pemilik tulang rusuknya. Tapi ternyata, setelah ta’aruf, bukan ikhwan itu pemilik tulang rusuknya.
Qadarullah, sang akhwat dipertemukan dengan seorang ikhwan yang belum pernah dikenal dan dipertemukan dalam sebuah proses ta’aruf. Sang akhwat pun mantap, tak ada keraguan sedikit pun dalam istikharahnya. Akhirnya, mereka menikah.
Satu lagi, ada seorang akhwat yang memblacklist seorang ikhwan untuk menjadi calon suaminya karena merasa tidak cocok secara karakter. Namun ternyata sang ikhwan berkeinginan untuk ta’aruf dengan sang akhwat. Awalnya sang akhwat menolak untuk berta’aruf dengan sang ikhwan. Atas nasihat sang guru ngaji dan istikharah beberapa kali, sang akhwat pun mencoba untuk berta’aruf dengan ikhwan yang dimaksud. Hingga akhirnya, mereka menikah.
Terlihat jelas bukan? Bahwa memang hanya sebuah proses ta’aruf yang syar’i-lah yang bisa mendatangkan petunjuk Allah. Dan sebaik-baik petunjuk itu adalah petunjukNYA.
Ada sebuah penggalan dalam artikel yang pernah dibaca:
“Kalau kita tidak mau mencoba ta’aruf, bagaimana mungkin kita tahu ia jodoh kita atau bukan. Kalau kita ta’aruf, kita akan tahu. Jika berhasil, berarti jodoh. Kalau belum berhasil, berarti belum jodoh. Iya, kan?!”
(untuk baca lebih lengkapnya bisa klik di sini.)
Jadi, memang benar, kita takkan pernah tahu siapa jodoh kita di dunia, kita takkan pernah tahu siapa pemilik tulang rusuk kita (bagi perempuan), atau siapa tulang rusuk kita yang belum ditemukan (bagi laki-laki), sebelum proses ta’aruf. Dari proses ta’aruflah, Allah memberikan petunjukNYA, menunjukkan siapa yang terbaik untuk kita.
So, buat para ikhwan yang sedang merasa seseorang itu sebagai tulang rusukmu, cobalah ta’aruf dulu. Baru kamu bisa bilang kalau dia tulang rusukmu atau bukan setelah proses ta’aruf. Dan tentunya disertai musyawarah dan istikharah. Dua hal inilah yang tak boleh ditinggalkan ketika proses ta’aruf.
Dan buat para akhwat yang berkali-kali gagal dalam proses ta’aruf, yakinlah memang mungkin belum saatnya dipertemukan dengan pemilik tulang rusukmu. Bersabarlah dan teguhkanlah kesabaranmu. Insya Allah semua kan indah pada waktunya.
Pada akhirnya, sebaik-baik jodoh adalah jodoh di akhirat, jodoh yang kekal. Namun sejatinya kita takkan pernah tahu siapa jodoh kita di akhirat. Karena belum tentu jodoh di dunia juga otomatis jodoh di akhirat. Maka yang bisa diikhtiarkan saat ini adalah mencari jodoh di dunia untuk membawanya menjadi jodoh di akhirat pula.
“Ya Allah Ya Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami nikmat di dunia dan juga nikmat di akhirat. Dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka…”
Aamiin…

Para Penderita Penyakit Syirik Kronis


 Yang dimaksud “syirik”  di sini adalah menyekutukan dan atau menyerupakan Allah SWT dengan makhluk, baik dalam sifat dan hal-ihwalnya. Jadi bukan syirik yang berkonotasi ‘iri’ sebagaimana yang dipahami masyarakat umum. Demikian, agar yang masih awam tidak bingung dalam membaca artikel di bawah ini).  Selamat membaca….
Adalah suatu kaum yang suka memutar-mutar lidahnya dan bodoh tingkah lakunya. Mereka berbicara dengan sabda Nabi SAW dan membaca Al-Qur’an, tetapi tidak sampai melewati kerongkongannya dan tidak sampai mengobatinya. Diantara mereka pernah berkata: “SESUNGGUHNYA TONGKATKU INI LEBIH BERGUNA DARIPADA MUHAMMAD, KARENA TONGKATKU INI BISA AKU PAKAI UNTUK MEMUKUL ULAR, SEDANG MUHAMMAD SETELAH MATI TIDAK ADA SEDIKITPUN KEMANFA’ATAN YANG TERSISA DARINYA, KARENA DIA (RASULULLAH S A W) ADALAH SEORANG THORISY (kurir atau tukang pos) DAN SEKARANG SUDAH BERLALU”.
Mereka pelopor pembuat bid’ah dengan merubah negeri Rasulullah SAW menjadi kerajaan dan menamakannya dengan nama keluarga mereka sendiri. Mereka tidak lain adalah sumber fitnah di tengah Muslimin yang menimbulkan perselisihan dan perpecahan. Mereka berasal dari Najed dan memerintahkan pengikutnya mencukur habis rambutnya (plontos). Mereka adalah sejelek-jelek makhluk.
Mereka sangat keras kepada kaum Muslimin tetapi berkasih sayang dan bekerja sama dengan musuh Islam. Dengan petro-dolarnya mereka menyombongkan diri di hadapan kaum Muslimin tetapi tunduk patuh dihadapan musuh Islam. Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya, yang tidak akan kembali seperti tidak kembalinya anak panah ketempatnya. Dan mereka gemar membunuh pemeluk Islam dan mengundang berhala-berhala (Amerika, Inggris dan kaum Zionis).
Mereka menetapkan bahwa Allah mempunyai jari, dan mereka juga menetapkan bahwa di antara jari-jari-Nya itu terdapat jari kelingking, serta jari kelingking-Nya mempunyai sendi. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam kitab at-Tauhid. Mereka juga mengatakan Allah SWT mempunyai dua tangan dengan ukuran tujuh puluh dua hasta dan dada. Mereka tidak hanya cukup sampai di sini, mereka juga menjadikan Allah mempunyai kaki. Bahkan mereka melangkah lebih jauh lagi. Mereka juga menetapkan bahwa Allah SWT mempunyai nafas.
Apa yang masih tersisa, terutama setelah mereka menetapkan Allah SWT mempunyai wajah? Bagaimana dengan suara-Nya?! Mereka telah menetapkannya dan bahkan menyerupakannya dengan suara besi yang bising. Kemudian, mereka menetapkan bahwa Allah SWT mempunyai bobot dan ukuran. Oleh karena itu, terdengar suara derit kursi ketika Allah sedang mendudukinya dan hanya tersisa seukuran empat jari. Jika Allah tidak mempunyai bobot, lantas apa arti dari suara derit? Maka lengkaplah bentuk yang jelek ini.
Dengan demikian, Allah SWT menjadi seorang manusia, yang mempunyai sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia. Inilah yang tampak dari mereka, meskipun mereka mengingkarinya. Bahkan, mereka mengatakan lebih dari itu. Mereka menetapkan Nabi Adam diciptakan berdasarkan wajah Allah, setinggi tujuh puluh hasta. Mereka juga menetapkan bahwa Allah SWT dapat dilihat. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah. Manakala sebagian dari mereka melihat buruknya apa yang telah mereka buat, mereka berusaha memberikan pembenaran terhadap hal itu, dan memberikan alasan dengan mengatakan: Tanpa bentuk (bi la kaif).
Sungguh benar apa yang dikatakan seorang penyair, “Mereka telah menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya namun mereka takut akan kecaman manusia maka oleh karena itu mereka pun menyembunyikannya dengan mengatakan ‘tanpa bentuk’.” Bagi setiap orang yang berakal sehat, pembenaran ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Karena ketidak-tahuan akan bentuk tidak memberikan faedah sedikit pun, dan tidak mendorong kepada arti yang benar. Justru dia lebih dekat kepada kesamaran (syubhat). Karena, penetapan kata-kata ini kepada makna hakikinya adalah berarti penetapan bentuk itu sendiri bagi kata-kata tersebut. Karena kata-kata berdiri dengan bentuknya itu sendiri, dan penetapan sifat-sifat ini ke dalam artinya sebagaimana yang sudah dikenal adalah berarti tajsim dan tasybih itu sendiri.
Adapun alasan yang mereka kemukakan, bahwa itu tanpa bentuk (kaif), tidak lebih hanya merupakan silat lidah saja. Syeikh Mu’tashim, seorang ulama dari Sudan, ketika masih kuliah pernah berdiskusi dengan salah seorang dosen beliau di kampus tentang seputar masalah duduknya Allah di atas ‘Arsy. Ketika dosen tersebut terdesak dia mengemukakan alasan, “Kami hanya akan mengatakan apa yang telah dikatakan oleh kalangan salaf.
Arti duduk (al-istiwa) diketahui, bentuk duduk (al-kaif) tidak diketahui, dan pertanyaan tentang-nya adalah bid’ah’ “.  Syeikh Mu’tashim mengatatakan kepadanya, “Anda tidak menambahkan apa-apa kecuali kesamaran (syubhat), dan Anda hanya menafsirkan air dengan air setelah semua usaha ini.” Dia berkata, “Bagaimana mungkin, padahal diskusi demikian serius.” Syeikh Mu’tashim berkata, “Jika arti duduk diketahui, maka tentu bentuknya pun diketahui juga. Sebaliknya, jika bentuk tidak diketahui, maka duduk pun tidak diketahui, karena tidak terpisah darinya. Pengetahuan tentang “duduk” adalah pengetahuan tentang “bentuk” itu sendiri, dan akal tidak akan memisahkan antara sifat sesuatu dengan bentuknya, karena keduanya adalah satu.
Jika Anda mengatakan si Fulan duduk, maka ilmu Anda tentang duduknya adalah ilmu Anda tentang bentuk (kaifiyyah) duduknya. Ketika Anda mengatakan, “duduk” diketahui, maka ilmu anda tentang duduk itu adalah ilmu Anda tentang bentuk duduk itu sendiri. Karena jika tidak, maka tentu terdapat pertentangan di dalam perkataan Anda, yang mana pertentangan itu bersifat zat. Ini tidak ada bedanya dengan pernyataan bahwa Anda mengetahui “duduk”, namun pada saat yang sama Anda mengatakan bahwa Anda tidak mengetahui bentuknya.”
Dia pun terdiam beberapa saat, lalu dengan tergesa-gesa dia meminta ijin untuk pergi. Semua yang dikatakan mereka tentang tidak adanya kaif (bentuk), namun dengan tetap menerapkan arti hakiki pada kata-kata di atas, tidak lain merupakan dua hal yang saling bertentangan (kontradiksi). Sebagaimana mereka mengatakan bahwa Allah SWT mempunyai tangan dalam arti yang sesungguhnya, namun tangan-Nya tidak sebagaimana tangan, adalah sebuah perkataan yang mana bagian akhirnya menyalahi bagian awalnya, dan begitu juga sebaliknya. Karena tangan dalam arti yang sesungguhnya (hakiki), mempunyai bentuk sebagaimana yang telah diketahui (bukan kaki misalnya).
Dan, penafian bentuk darinya adalah berarti membuang hakikatnya. Jika kata-kata yang kosong ini cukup untuk menetapkan kesucian Allah SWT, maka tentunya kita dapat mengatakan, Allah SWT mempunyai jisim namun tanpa bentuk, Allah mempunyai darah namun tanpa bentuk, Allah mempunyai daging namun tanpa bentuk, dan Allah mempunyai rambut namun tanpa bentuk. Bahkan, salah seorang dari mereka sampai mengatakan, “Sesungguhnya saya malu untuk menetapkan Allah mempunyai kemaluan dan janggut. Oleh karena itu, maafkanlah saya, dan tanyalah kepada saya selain dari keduanya.”
Juga perlu diingat, jangan sampai dari keterangan ini Anda memahami bahwa kita mempercayai takwil di dalam ayat-ayat yang seperti ini. Karena pentakwilan makna zahir Al-Qur’an dan sunnah dengan alasan bahwa makna tersebut bertentangan dengan akal, tidaklah dibolehkan. Karena di dalam Al-Qur’an dan sunnah tidak ada sesuatu yang bertentangan dengan akal. Adapun apa yang terbersit bahwa makna zahir Al-Qur’an dan hadis bertentangan dengan akal, sebenarnya itu bukanlah makna zahir, melainkan sebuah makna yang mereka bayangkan sebagai makna zahir.
Berkenaan dengan ayat-ayat yang seperti ini, tidak diperlukan adanya takwil. Karena bahasa, di dalam penunjukkan maknanya, terbagi kepada dua bagian: 1. Penunjukkan makna ifradi. 2. Penunjukkan makna tarkibi. Terkadang, makna ifradi berbeda dari makna tarkibi, jika di sana terdapat petunjuk (qarinah) yang memalingkan makna tarkibi dari makna ifradi. Sebaliknya, makna tarkibi akan sejalan dengan makna ifradi apabila tidak terdapat qarinah (petunjuk) yang memalingkannya dari makna ifradi.
Sebagai contoh, tatkala kita menyebutkan kata “singa” —yaitu berupa kata tunggal— maka dengan serta merta terbayang di dalam benak kita binatang buas yang hidup di hutan. Makna yang sama pun akan hadir di dalam benak kita manakala kata tersebut disebutkan dalam bentuk susunan kata (tarkibi) yang tidak mengandung petunjuk (qarinah) yang memalingkannya dari makna ifradi. Seperti kalimat yang berbunyi, “Saya melihat seekor singa tengah memakan mangsanya di hutan.” Sebaliknya, makna kata singa akan berubah sama sekali apabila di dalam susunan kata (kalimat) kita mengatakan, “Saya melihat singa tengah menyetir mobil.” Maka yang dimaksud dari kata singa yang ada di dalam kalimat ini adalah seorang laki-laki pemberani.
Inilah kebiasaan orang Arab di dalam memahami perkataan. Manakala seorang penyair berkata, “Dia menjadi singa atas saya, namun di medan perang dia tidak lebih hanya seekor burung onta yang lari karena suara terompet perang yang dibunyikan.” Dari syair ini kita dapat mengetahui bahwa kata singa di atas tidak lain adalah seorang laki-laki yang berpura-pura berani di hadapan orang-orang yang lemah, namun kemudian lari sebagai seorang pengecut tatkala berhadapan dengan musuh. Orang yang mengerti perkataan ini, tidak mungkin akan menamakannya sebagai orang yang mentakwil nash dengan sesuatu yang keluar dari makna zahir perkataan.
Demikian juga halnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang seperti ini. Ketika —misalnya— Allah SWT mengatakan, “Tangan Allah di atas tangan mereka “, maka pengertian tangan di sini sebagai kekuasaan bukanlah suatu bentuk takwil. Hal ini tidak berbeda dengan perkataan yang berbunyi, “Negeri berada di dalam genggaman tangan raja”. Yaitu artinya berada di bawah kekuasaan dan kehendak raja. Kata-kata ini tetap sesuai diucapkan meskipun pada kenyataannya raja tersebut buntung tangannya.
Demikian juga halnya dengan ayat-ayat lainnya. Kita menetapkan makna tarkibi, yang tampak dari sela-sela konteks kalimat, dan kita tidak terpaku dengan makna kata secara leksikal, dengan tanpa melakukan takwil atau tahrif. Itulah yang disebut dengan beramal dengan zahir nash. Namun tentunya, zahir yang tampak dari konteks kalimat. Kaum yang berasal dari Najed, mereka menyesatkan manusia dengan makna zahir fardiyyah, dengan tanpa melihat kepada makna keseluruhan (ijmali tarkibi).
Dengan cara inilah makna zahir Al-Qur’an dan sunah menjadi hujjah, yang tidak seorang pun manusia diperbolehkan berpaling darinya, dan juga mentakwilkannya, setelah sebelumnya memperhatikan dengan seksama qarinah-qarinah (petunjuk-petunjuk) yang menyatu maupun yang terpisah. Adapun orang yang berhujjah dengan makna zahir fardiyyah maka dia telah lalai dan menyimpang dari perkataan orang Arab. Telah berlangsung sebuah diskusi di antara saudaranya Syeikh Mu’tashim dengan salah seorang tokoh mereka. Diskusi mereka mengenai seputar sifat-sifat Allah. Saudaranya Syeikh Mu’tashim mensucikan Allah dari sifat-sifat yang seperti di atas, dan dengan berbagai jalan berusaha membuktikan keburukan keyakinan-keyakinan tersebut.
Namun, semuanya itu tidak mendatangkan manfaat, hingga akhirnya saudaranya Syeikh Mu’tashim mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya, “Jika memang Allah SWT mempunyai sifat-sifat ini, yaitu Dia mempunyai wajah, mempunyai dua tangan, dua kaki, dua mata, dan sifat-sifat lainnya yang mereka alamatkan kepada Tuhan mereka, apakah tidak mungkin kemudian seorang manusia membayangkan dan mengkhayalkan-Nya? Dan dia pasti akan membayangkan-Nya. Karena jiwa manusia tercipta sedemikian rupa, sehingga dia akan membayangkan sesuatu yang telah diberi sifat-sifat yang seperti ini.” Jawaban yang diberikan oleh tokoh mereka tersebut benar-benar menjelaskan keyakinannya tentang tajsim. Dia berkata, “Ya, seseorang dapat membayangkan-Nya, namun dia tidak diperkenankan memberitahukannya.!!” Saudaranya Syeikh Mu’tashim berkata, “Sesungguhnya Allah yang Mahabenar, Dia tidak dapat diliputi oleh akal, tidak dapat digapai oleh penglihatan, tidak dapat ditanya di mana dan bagaimana, serta tidak dapat dikatakan kepada-Nya kenapa dan bagaimana. Karena Dialah yang telah menciptakan di mana dan bagaimana. Segala sesuatu yang dapat Anda bayangkan adalah makhluk.
Kami telah belajar bahwa, “Segala sesuatu yang kamu bayangkan, meski pun dalam bentuk yang paling rumit, dia itu makhluk seperti kamu.’ Keseluruhan pengenalan Allah ialah ketidak-mampuan mengenal-Nya.” Tokoh mereka itu berkata dengan penuh emosi, “Kami menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya, dan itu cukup.” Saudara dari Syeikh Mu’tashim berkata kepadanya, “Apa bedanya antara Anda meletakkan sebuah berhala di hadapan Anda dan kemudian Anda menyembahnya, dengan Anda membayangkan sebuah berhala dan kemudian menyembahnya?” Tokoh mereka itu dengan emosi memuncak berteriak, “Ini adalah perkataan kelompok sesat —semoga Allah memburukkan mereka. Mereka beriman kepada Allah namun mereka tidak mensifati-Nya dengan sifat-sifat seperti ini. Sehingga dengan demikian, mereka menyembah Tuhan yang tidak ada.”
Demikianlah…. Mereka ini menderita penyakit syirik yang kronis. Para Penderita penyakit Syirik Kronis (kita singkat saja dengan PSK) ini tidak merasa kalau sedang sakit yang sangat berbahaya. Bahkan para PSK ini menyebut semuanya itu dengan tauhid murni.  Mereka bukan saja tidak merasakannya bahkan dengan bergairah menikmatinya dan berupaya menularkannya kepada orang lain. Begitu telah mendarah dagingnya sehingga para PSK ini tidak akan pernah bisa menghilangkan berhala dari dalam benak mereka tanpa memecahkan kepala mereka sendiri.
Jadi, wahai saudara-saudaraku muslimin Sunni dan Syiah, janganlah heran kalau kaum PSK ini akan terus ngotot dengan kedunguan dan fitnahnya selama mereka belum memecahkan kepala mereka sendiri untuk menghilangkan berhala dalam benak mereka.
Sumber:
http://wildwestwahabi.wordpress.com/2007/06/22/penderita-syirik-kronis/#more-4

Jangan Keliru Memahami Hakekat Maulid Nabi Muhammad SAW


Banyak orang yang keliru dalam memahami hakekat Maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka menggambarkan Maulid Nabi itu dengan ilustrasi-iliustari yang salah dengan melandaskan perkiraannya itu pada masalah-masalah yang tidak berfaedah sama sekali. Mereka mempersepsikan bahwa Acara Maulid Nabi adalah kegiatan ‘amal ibadah’ yang sia-sia, selain membuang-buang waktu, dalam membaca kisah Maulid Nabi adalah bid’ah yang sesat.
Kami mengatakan, sebagaimana yang pernah kami kemukakan sebelumnya oleh Ellifa Fauziah: Kesimpulannya bahwa sesungguhnya berkumpul untuk acara Maulid Nabi SAW adalah suatu tradisi Islam yang baik, dan bukan ibadah. Inilah keyakianan kami. Kami mengadakan acara Maulid Nabi, tidak lebih dari sebuah ekspresi Cinta Kami kepad Rasulullah SAW, yang mana Cinta Kepada Nabi SAW itu bisa memiliki berbagai sisi. Dan Acara Maulid Nabi hanyalah satu sisi dari ekspresi cinta Ummat Muhammad.  Nah, untuk lebih bisa mencintai Nabi SAW, berikut ini kami turunkan sebuah artikel bermutu tinggi yang ditulis oleh Seorang yang Mulia, yang cintanya kepada Rasulullah SAW bisa dilihat dan dibuktikan. Beliau adalah Habib Munzir Al-Musawa Pemimpin Majelis Rasulullah….
Keridhoan dan kelembutan-Nya semoga selalu membuka jalan kemudahan pada hari-hari anda….
Saudaraku yg kumuliakan,
Sungguh ucapan mereka itu (yang mendholalahkan Maulid Nabi SAW) karena kedangkalan ilmu mereka terhadap ilmu bahasa, Nahwu-sharaf dan Syariah. Mereka hanya menukil-nukil dan mengira-ngira, lalu berfatwa menurut akalnya yang bodoh dalam syariah.
Rasul SAW bukan orang yg suka dipuji karena takabbur, namun Rasul SAW suka dipuji oleh orang orang yg benar-benar mencintai beliauSAW, karena pujian itu datang dari cinta, dan cinta kepada Rasul SAW adalah kesempurnaan Iman. Beda dengan cinta pada kita satu sama lain yang  mungkin bisa jadi merupakan hal yg melupakan kita dari Allah swt.
Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka Abbas ra memuji dg syair yg panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417).
Berkata Aisyah ra : “Jangan kalian caci Hassan, sungguh ia itu selalu membanggakan Rasulullah saw” (Shahih Bukhari Bab Adab hadits no.5684).
Hassan bin Tsabit ra membaca syair di Masjid Nabawiy yg lalu ditegur oleh Umar ra, lalu Hassan berkata: “aku sudah baca syair nasyidah disini dihadapan orang yg lebih mulia dari engkau wahai Umar (yaitu Nabi saw), lalu Hassan berpaling pada Abu Hurairah ra dan berkata : “bukankah kau dengar Rasul saw menjawab syairku dg doa : wahai Allah bantulah ia dengan ruhulqudus?, maka Abu Hurairah ra berkata : “betul” (shahih Bukhari hadits no.3040, Shahih Muslim hadits no.2485)
Mengenai Larangan Rasul saw atas pujian sebagaimana Isa bin Maryam, tentunya jauh berbeda, dan orang wahabi itu buta, mereka tak bisa membedakan antara air putih dan arak, tentunya arak diharamkan, namun air putih adalah sunnah, mereka tak bisa membedakannya karena bodohnya, maka mereka mengharamkan semua orang untuk minum air, karena ditakutkan air itu adalah arak, padahal semua orang sangat bisa membedakan antara air dan arak, dari baunya, warnanya, rasanya, namun wahabi karena bodohnya maka mereka tak bisa membedakan mana pujian yg sunnah, mana pujian yg musyrik.
Dan yg lebih bodoh lagi adalah yg mengikuti dan membenarkan ucapan mereka ini. Kita lihat riwayat perbuatan pengagungan para sahabat terhadap Nabi saw dibawah ini, saya yakin jika ini anda perbuat maka si wahabi wahabi itu akan memfitnah anda musyrik, padahal ini perbuatan sahabat :
Para sahabat hampir berkelahi saat berdesakan berebutan air bekas wudhunya Rasulullah saw (Shahih Bukhari Hadits no.186).
Setelah Rasul saw wafat maka Asma binti Abubakar shiddiq ra menjadikan baju beliau saw sebagai pengobatan, bila ada yg sakit maka ia mencelupkan baju Rasul saw itu di air lalu air itu diminumkan pada yg sakit (shahih Muslim hadits no.2069).
Seorang sahabat meminta Rasul saw shalat dirumahnya agar kemudian ia akan menjadikan bekas tempat shalat beliau saw itu mushollah dirumahnya, maka Rasul saw datang kerumah orang itu dan bertanya : “dimana tempat yg kau inginkan aku shalat?”. Demikian para sahabat bertabarruk dengan bekas tempat shalatnya Rasul saw hingga dijadikan musholla (Shahih Bukhari hadits no.1130)
Allah memuji Nabi saw dan Umar bin Khattab ra yg menjadikan Maqam Ibrahim as (bukan makamnya, tetapi tempat ibrahim as berdiri dan berdoa di depan ka’bah yg dinamakan Maqam Ibrahim as) sebagai tempat shalat (musholla), sebagaimana firman Nya : “Dan jadikanlah tempat berdoanya Ibrahim sebagai tempat shalat” (QS Al Imran 97), maka jelaslah bahwa Allah swt memuliakan tempat hamba hamba Nya berdoa, bahkan Rasul saw pun bertabarruk dengan tempat berdoanya Ibrahim as, dan Allah memuji perbuatan itu.
Diriwayatkan ketika Rasul saw baru saja mendapat hadiah selendang pakaian bagus dari seorang wanita tua, lalu datang pula orang lain yang segera memintanya selagi pakaian itu dipakai oleh Rasul saw, maka riuhlah para sahabat lainnya menegur si peminta, maka sahabat itu berkata : “aku memintanya karena mengharapkan keberkahannya ketika dipakai oleh Nabi saw dan kuinginkan untuk kafanku nanti” (Shahih Bukhari hadits no.5689), demikian cintanya para sahabat pada Nabinya saw, sampai kain kafanpun mereka ingin yang bekas sentuhan tubuh Nabi Muhammad saw.
Sayyidina Umar bin Khattab ra ketika ia telah dihadapan sakratulmaut, Yaitu sebuah serangan pedang yg merobek perutnya dengan luka yg sangat lebar, beliau tersungkur roboh dan mulai tersengal sengal beliau berkata kepada putranya (Abdullah bin Umar ra), “Pergilah pada ummulmukminin, katakan padanya aku berkirim salam hormat padanya, dan kalau diperbolehkan aku ingin dimakamkan disebelah Makam Rasul saw dan Abubakar ra“, maka ketika Ummulmukminin telah mengizinkannya maka berkatalah Umar ra : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu” (dimakamkan disamping makam Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.1328). Dihadapan Umar bin Khattab ra Kuburan Nabi saw mempunyai arti yg sangat Agung, hingga kuburannya pun ingin disebelah kuburan Nabi saw, bahkan ia berkata : “Tidak ada yang lebih kupentingkan daripada mendapat tempat di pembaringan itu”
Demikian pula Abubakar shiddiq ra, yang saat Rasul saw wafat maka ia membuka kain penutup wajah Nabi saw lalu memeluknya dengan derai tangis seraya menciumi tubuh beliau saw dan berkata : “Demi ayahku, dan engkau dan ibuku wahai Rasulullah.., Tiada akan Allah jadikan dua kematian atasmu, maka kematian yang telah dituliskan Allah untukmu kini telah kau lewati”. (Shahih Bukhari hadits no.1184, 4187).
Salim bin Abdullah ra melakukan shalat sunnah di pinggir sebuah jalan, maka ketika ditanya ia berkata bahwa ayahku shalat sunnah ditempat ini, dan berkata ayahku bahwa Rasulullah saw shalat di tempat ini, dan dikatakan bahwa Ibn Umar ra pun melakukannya. (Shahih Bukhari hadits no.469).
Demikianlah keadaan para sahabat Rasul saw, bagi mereka tempat-tempat yang pernah disentuh oleh Tubuh Muhammad saw tetap mulia walau telah diinjak ribuan kaki, mereka mencari keberkahan dengan shalat pula ditempat itu, demikian pengagungan mereka terhadap sang Nabi saw.
Dalam riwayat lainnnya dikatakan kepada Abu Muslim, wahai Abu Muslim, kulihat engkau selalu memaksakan shalat ditempat itu?  Maka Abu Muslim ra berkata : Kulihat Rasul saw shalat ditempat ini” (Shahih Bukhari hadits no.480).
Sebagaimana riwayat Sa’ib ra, : “aku diajak oleh bibiku kepada Rasul saw, seraya berkata : Wahai Rasulullah.., keponakanku sakit.., maka Rasul saw mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau saw, lalu aku berdiri dibelakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian beliau saw” (Shahih Muslim hadits no.2345).
Riwayat lain ketika dikatakan pada Ubaidah ra bahwa kami memiliki rambut Rasul saw, maka ia berkata: “Kalau aku memiliki sehelai rambut beliau saw, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala isinya” (Shahih Bukhari hadits no.168). demikianlah mulianya sehelai rambut Nabi saw dimata sahabat, lebih agung dari dunia dan segala isinya.
Diriwayatkan oleh Abi Jahiifah dari ayahnya, bahwa para sahabat berebutan air bekas wudhu Rasul saw dan mengusap-usapkannya ke wajah dan kedua tangan mereka, dan mereka yang tak mendapatkannya maka mereka mengusap dari basahan tubuh sahabat lainnya yang sudah terkena bekas air wudhu Rasul saw lalu mengusapkan ke wajah dan tangan mereka” (Shahih Bukhari hadits no.369, demikian juga pada Shahih Bukhari hadits no.5521, dan pada Shahih Muslim hadits no.503 dengan riwayat yang banyak).
Diriwayatkan ketika Anas bin malik ra dalam detik detik sakratulmaut ia yg memang telah menyimpan sebuah botol berisi keringat Rasul saw dan beberapa helai rambut Rasul saw, maka ketika ia hampir wafat ia berwasiat agar botol itu disertakan bersamanya dalam kafan dan hanut nya (shahih Bukhari hadits no.5925)
Dan belasan riwayat lainnya dari riwayat shahih dan tsiqah bahwa para sahabat memuliakan Rasulullah saw, dengan syair, dengan perbuatan, pengorbanan, dan pengagungan.
Tampaknya kalau mereka ini hidup di zaman sekarang, tentulah para sahabat ini sudah dikatakan musyrik, tentu Abubakar sudah dikatakan musyrik karena menangisi dan memeluk tubuh Rasul saw dan berbicara pada jenazah beliau saw, demikian pula Umar ra yg saat wafat bukannya ingat syahadat malah ingat ingin dimakamkan disebelah kubur Nabi saw, demikian semua sahabat,
Inilah bodohnya wahabi,
Dan seluruh Ulama dan Imam Seluruh madzhab tak satupun mengharamkan pujian pada Rasul saw, hanya wahabi saja yg menolak, memang mereka ini tak berhak berkumpul dengan para pecinta Rasul saw, karena mereka menganggap Rasul saw sama dengan manusia lainnya, padahal Allah swt telah berfirman :“Nabi (saw) mesti lebih diutamakan dari setiap mukmin dari diri mereka sendiri, dan istri istri beliau adalah ibunda kaum mukminin” (QS Al Ahzab 6).
Lalu bagaimana dengan riwayat berikut :
Berkata Anas ra : “Tak kutemukan sutra atau kain apapun yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah saw, dan tak kutemukan wewangian yang lebih wangi dari keringat dan tubuh Rasul saw” (Shahih Bukhari hadits no.3368).
“Kami tak melihat suatu pemandangan yg lebih menakjubkan bagi kami selain Wajah Nabi saw”. (Shahih Bukhari hadits no.649 dan Muslim hadits no.419)
Dari Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah.., bila kami memandang wajahmu maka terangkatlah hati kami dalam puncak kekhusyu’an, bila kami berpisah maka kami teringat keduniawan, dan mencium istri kami dan bercanda dengan anak anak kami” (Musnad Ahmad Juz 2 hal.304, hadits no.8030 dan Tafsir Ibn katsir Juz 1 hal.407 dan Juz 4 hal.50).
Diriwayatkan bahwa Abu Sa’id bin Ma’la ra sedang shalat dan ia mendengar panggilan Rasul saw memanggilnya, maka Abu Sa’id meneruskan shalatnya lalu mendatangi Rasul saw dan berkata : Aku tadi sedang shalat Wahai Rasulullah.., maka Rasul saw bersabda : “Apa yang menghalangimu dari mendatangi panggilanku?, bukankah Allah telah berfirman “WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DATANGILAH PANGGILAN ALLAH DAN RASUL NYA BILA IA MEMANGGIL KALIAN”.(Al Anfal 24). (Shahih Bukhari hadits no.4204, 4370, 4426, 4720).
Dan bahwa mendatangi panggilan Rasul saw ketika sedang shalat tak membatalkan shalat, dan mendatangi panggilan beliau lebih mesti didahulukan dari meneruskan shalat, karena panggilan beliau adalah Panggilan Allah swt, perintah beliau saw adalah perintah Allah swt, dan ucapan beliau saw adalah wahyu Allah swt….
Ketika datangnya seorang buta pada Rasul saw, seraya mengadukan kebutaannya dan minta didoakan agar sembuh, maka Rasul saw menyarankannya agar bersabar, namun orang ini tetap meminta agar Rasul saw berdoa untuk kesembuhannya, maka Rasul saw memerintahkannya untuk berwudhu, lalu shalat dua rakaat, lalu Rasul saw mengajarkan doa ini padanya, ucapkanlah : “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).
Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yg mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yg membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yg mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.
Mengenai ucapan :

?? ???? ????? ?? ?? ?? ???? ?? ***** ???? ??? ???? ?????? ?????

Wahai insan yang paling mulia (Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam). Tiada seseorang yang dapat kujadikan perlindungan selain dirimu, ketika datang musibah yang besar.
Bait ini adalah berdasarkan :
“Dan beliau saw itu adalah manusia yg terindah wajahnya, dan terindah akhlaknya” (Shahih Bukhari hadits no.3356) .
“Dan beliau saw itu adalah manusia yg termulia dan manusia yg paling dermawan, dan manusia yang paling berani” saw (Shahih Bukhari hadits no.5686).
Sebagaimana hadits beliau saw : “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber istighatsah kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, lalu mereka beristighatsah kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405), juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits no.194, shahih Bukhari hadits no.3162, 3182, 4435).
Dan banyak lagi hadist-hadits shahih yg rasul saw menunjukkan ummat manusia memanggil manggil para nabi dan rasul untuk minta pertolongan, bahkan Riwayat shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusai.. dst.. dst…dan Adam as berkata : “Diriku..diriku.., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka ber Istighatsah memanggil manggil Muhammad saw, dan Nabi saw sendiri yg menceritakan ini, dan riwayatnya shahih.
Mengenai mereka yg mengingkari ini dengan dalil Alqur’an, adalah karena kebodohan mereka terhadap Alqur’an, sebagaimana berkata Imam Ibn Katsir pada tafsirnya :

???? ?????: { ?????????? ?? ???????? ???????????? ???? ???? ?????? ???? ??????????? ???????? ???? ?????? }

?????: { ???? ??? ??????? ???????? ???????? ???? ?????????? } [??????: 255?

????: { ???? ??????????? ???? ?????? ???????? } [????????: 28]

????: { ???? ???????? ???????????? ???????? ???? ?????? ?????? ???? } [???: 23?

????: { ?????? ??????? ???????? ??????????????? ?????? ?? ?????????????? ???? ???? ?????? ???? ??????????? ??????? ???????? } [?????: 38] .

??? ????????? ?? ??? ???? ?? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ??? ??? ??? ???? ????? ??????? ??? ???? ?? ??? ??? ???: “??? ??? ?????? ???? ??? ??????? ???????? ???? ?????? ?? ?????? ????? ?????? ?? ??? ???? ?? ?????? ?? ????: ?? ????? ???? ????? ??? ???? ????? ????” . ???: “???? ?? ?????? ??????? ?????? ?? ????”? ???? ???? ????? ????? ???? ?????? ????



Firman Allah Ta’ala : Hari dimana tak bermanfaat lagi pertolongan terkecuali yg telah diizinkan Allah Arrahman dan diridhoi ucapannya (QS Thahaa 109)
Juga seperti firman Nya : Siapakah yg bisa member pertolongan dihadapan Nya kecuali dengan izin Nya? (Al Baqarah 255)
Dan firman Nya : Tiadalah mereka mampu memberi pertolongan kecuali orang orang yg diridhoi (Al Anbiya 28)
Dan firman Nya : dan tiadalah bermanfaat pertolongan disisi Nya kecuali yg diizinkan baginya” (Saba 23)
Hari berdirinya Jibril dan para malaikat dalam barisan barisan, mereka tak berbicara terkecuali yg diizinkan Allah dan ia berkata dengan ucapan mulia (Annaba 38).
Dan pada Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dari banyak riwayat, dari Rasul saw : “Dan beliau lah pemimpin seluruh anak Adam, dan semulia mulia makhluk Allah Azza wa Jalla, dan beliau berkata : Aku datang kebawah Arsy, maka aku menyungkur diri bersujud pada Allah, maka diajarkan padaku puji pujian yg tak jelas padaku skrng, maka Dias wt membiarkanku dalam waktu yg dikehendaki Nya, lalu Dia swt berkata : “Wahai Muhammad, bangunlah dari sujudmu, ucapkanlah keinginanmu niscaya akan kudengar (kukabulkan), dan berilah syafaat agar mereka member syafaat”, lalu Allah swt membatasiku dan aku memasukkan mereka ke surga, lalu aku kembali pada Nya swt, maka demikian hingga empat kali, semoga shalawat Allah dan salam Nya, atas beliau”.
 

Selesai Ucapan Imam Ibn Katsir. (Tafsir Imam Ibn Katsir Juz 5 hal 317, Thaha 109)
Maka jelaslah sudah bahwa Allah swt memang pemilik segala pertolongan, namun Allah swt memberikan izin pada hamba hamba Nya yg dicintai Nya dan dimuliakan Nya, dan pimpinan semua hamba yg dimuliakan Nya adalah Sayyidina Muhammad saw.

??? ?? ???? ?????? ?????? ***** ??? ????? ??? ????? ??????


Di antara kebaikanmu (Muhammad SAW) adanya dunia dan akhirat dan sebagian dari ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudz) dan qalam.
Mengenai hal ini,  yang dimaksud adalah bukan beliau saw menciptakan dunia, namun karena kebaikan dan kelembutan dan kedermawanan beliau saw lah dunia ini masih bertahan, hal ini merupakan pujian pada Nabi saw yg tak mau mendoakan kehancuran pada ummat beliau saw, sebagaimana Nabi Nuh as yg berdoa sebagaimana firman Allah swt : “Rabbiy Jangan kau sisakan satu rumah kafirpun di permukaan bumi, sungguh jika Engkau membiarkannya maka akan menyesatkan hamba hamba Mu, dan mereka tak akan berketurunan kecuali muncul keturunan yg fajir dan kafir” (QS Nuh 26),
Dan akhirat yg dimaksud adalah kedermawanan Rasul saw tetap tidak sirna, disaat seluruh Nabi dan Rasul berkata : diriku.. diriku.. pergi pada selainku.., namun Nabi kita Muhammad saw malah bersujud memohon syafaat (Shahih Bukhari).
Mengenai ilmu pengetahuan beliau dari lauhul mahfud, yg dimaksud adalah beliau saw banyak diberi pengetahuan oleh Allah, sebagaimana kabar yg akan terjadi di akhir zaman, di alam kubur, di hari kiamat, si fulan wafat dalam keridhoan, si fulan wafat dalam kekufuran, dan banyak lagi kabar kabar dari lauhul mahfud yg dikabarkan oleh Nabi saw, dan riwayat riwayat ini teriwayatkan pada shahih Bukhari dan Kutubusshahih lainnya, maka pengingkaran akan hal ini adalah bentuk kebodohan yg nyata, kita bisa lihat bagaimana syair pujian Abbas bib Abdulmuttalib ra diatas : dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417)
Apakah ini bukan kultus jika dibaca dengan kacamata kebodohan mereka kaum wahabi? “DAN LANGIT BERCAHAYA DENGAN CAHAYAMU”,  tentunya bukan langit bercahaya dengan cahaya beliau saw, tapi dengan cahaya risalah kebangkitan beliau saw sedemikian terangnya seakan langit ini bercahaya dg cahaya beliau.
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dengan  segala cita cita.
Wallahu a’lam

Bukti Orisinalitas Al Quran Keluar dari Mulut Anak Ajaib di Negeri Iran


Anak Ajaib dari IranAnak Ajaib dari Negeri Syiah yang Menjadi Bukti Orisinalitas Al Quran

Doktor Sayyid Muhammad Husein Thabataba. Anak termuda yang hafal seluruh Al Quran, penerjemah Al Quran termuda dan pelajar Hauzah Ilmiah Qom yang paling belia.
Dia adalah anak pertama yang mampu menyampaikan semua keinginan dan percakapannya sehari-hari dengan menggunakan ayat-ayat suci apanAl Quran. Anak pertama yang berhasil menghafal seluruh Al Quran dengan metode isyarat. Anak pertama yang bisa dengan mudah menghubungkan satu ayat dengan lainnya dan menafsirkan ayat Al Quran dengan cara itu. Anak pertama yang dapat menjawab semua pertanyaan dengan menggunakan ayat-ayat suci Al Quran. Anak pertama dari negeri Iran yang berhasil memperoleh titel Doktor kehormatan dari salah satu universitas Inggris di usianya yang ketujuh tahun.

Pertemuan dan Pengujian

Suasana dalam ruangan itu mendadak hening dan para syaikh, hafidz, mufassir & jamaah lainnya menahan pembicaraan. Perhatian mereka tertuju pada sosok bocah yang sedang duduk bersila dengan tenang dihadapan mereka tatapan matanya yang bulat & jernih menyapu ratusan hadirin yang berjubel dan wajahnya yang polos tampak berseri dan memancarkan kharisma yang kuat dan senyumnya tipis membuat gemas siapapun yang memandang.
Bocah itu bukan bocah biasa sejak beberapa tahun terakhir menjadi buah bibir kaum muslimin Iran … Dalam usianya yang masih balita (5 thn) ia sudah hafal Al Quran beserta maknanya. Bahkan dalam kesehariannya ia berbicara dengan bahasa Al Quran.
Namanya Muhammad Husein bin Thoba Thoba. Di depan namanya ada kata Sayyid. Itu artinya ia termasuk salah satu Zurriyat Rasulullah dan orangorang menjuluki The Amazing Child : Si Bocah Ajaib ….
Duduk di sampingnya adalah sang Ayah Sayyid Thoba Thoba sedang berbicara. Seperti saudara-saudara ketahui anak saya telah hafal Al Quran di usia balita lengkap dengan terjemahannya. Kami mengajarkan Al Quran sejak ia berumur 2 tahun 4 bulan sebagian kami sendiri yang mengajarkannya dan sebagian yang lain ..dia menguasai sendiri .. misalnya berbicara dengan bahasa Al Quran. Alhamdulillah dia bisa dengan sendirinya ..
Ia selalu berbicara dengan bahasa Al Quran baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Jika dibacakan sebuah kalimat dari Al Quran ia mampu menjelaskan bahwa kalimat itu ada dalam surah ini ayat sekian juz sekian dan berada di halaman sekian ..
Ia juga hafal tulisan yang berada di awal halaman dan 5 halaman berikutnya. Bahkan ia hafal kalimat atau ayat-ayat yang serupa secara lafadz dan maknanya. Allahu Akbar. Sekarang …  saudara dapat bertanya langsung kepadanya tentang suatu ayat dan tanyakan itu surah apa ayat berapa dan di juz berapa. Atau bacakan kepadanya suatu terjemahan ayat lalu minta kepadanya untuk menyebutkan ayatnya atau menanyakan suatu tema dalam Al Quran. Insya Alloh ia dapat menjelaskannya.
Seorang jamaah langsung mengangkat tangannya tanpa dipersilahkan lebih lanjut ia bertanya dengan membaca sebuah ayat lantas sang ayah membacakan kembali ayat tersebut kepada Husein, … Wa atainahul hukma shabiyya … ayat ini di surat apa? tanya sang ayah, dengan spontan Husein menjawab: Surah Maryam, Juz berapa? Juz ke 16, terletak dihalaman berapa dalam surah Maryam? Dihalaman pertama. Apa arti ayat tsb? Dan kami telah anugerahkan hukum kepadanya ketika masih dalam gendongan.
Ahsantum! Bagus ! kata sang ayah. Sekarang bacalah beberapa ayat, setelahnya perintah sang ayah. Maka si bocah meneruskannya hingga 3 surah selanjutnya .. untaian firman Allah itu mengalir lancar dari bibirnya, suaranya jernih, lafadznya fasih, hadirin menahan nafasnya.
Sang ayah kembali bertanya: Dalam Al Quran terdapat ayat yang menyebutkan bahwa Nabi Isa yg masih bayi berdialog dengan umat seperti orang dewasa. Nah ayat ini ada di surah apa? Di surah Ali Imron Juz ke 3. Sebutkan ayatnya kata sang ayah, Sayyid Husein membacanya dgn lancar dilanjutkan dengan artinya.
Lalu Sayyid Thoba Thoba kembali memuji putranya: Bagus, semoga Alloh memberkatimu.
Sementara itu seorang guru membacakan surah Al Quran yang kemudian dibacakan kembali oleh sang ayah … Wakhfidh lahuma janahadz dzulli … ayat itu ada di surah apa? tanya sang ayah. Tanpa berfikir panjang Sayyid Husein menjawab Al Isro’, Juz berapa? Ke 15, Dihalaman berapa? Ke 3. Sekarang ucapkan artinya … Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil (Al Isro:24).
Ayat-ayat berikutnya pinta sang ayah lagi. Lagi-lagi dengan suaranya yang jernih, ia membacakan surah Al Isro hingga 2 ayat berikutnya. Hadirin mulai tidak tenang mereka terus menerus mengucapkan lafadz takjub … Masya Allooooh …
Pertanyaan tak berhenti sampai disitu, hadirin semakin penasaran seseorang yang tampaknya sengaja datang dari jauh sengaja datang hanya untuk melihat keajaiban itu.Ia bertanya berdasarkan ayat Al Quran yang ia buka secara acak.
Wahai Sayyid, surah apakah yang saya bacakan ini. Tsumma qila lahum aina ma kuntum tusyrikun? Az Zumar kata sayyid Husein sambil tersenyum, Juz berapa? Ke 24, Di halaman berapa dalam Az Zumar? 8. Apa arti kata Zumaro? Berbondong-Bondong. Bacalah kembali ayat tadi & lanjutkan dgn ayat berikutnya. Dengan lancar Sayyid Husein membaca ayat tersebut dan semua orang terpana.
Sosok bocah ini seakan bersinar menerangi hati kaum muslimin yang hadir, ia memancarkan kharisma dan kewibawaan yang membuat orang lain mencintai dia.
Diantara hadirin ada yang menitikkan air mata karena haru ada pula yang sibuk membolak balik Al Quran untuk mencocokkan apa yg diucapkan si bocah.
Kembali seorang jamaah yang ahli computer bertanya: Di dalam Al Quran terdapat angka 3, 4, 5 dan 6, nah surat apa dan ayat berapa itu? Seperti komputer canggih tanpa berfikir lagi Sayyid Husein menjawab yang artinya: Nanti (ada orang yg akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah 3 orang , yang ke 4 adalah anjingnya dan mengatakan (jumlah mereka) adalah 5 orang, yang ke 6 adalah anjingnya. (Al Kahfi : 22).
Mendengar jawaban Sayyid Husein …..hadirin serentak melafadzkan: Masya Alloh … Lahawla wala kuwata illa billah …
Betapa tidak, seorang pakar komputer sekalipun perlu beberapa waktu untuk menemukan ayat tersebut paling tidak beberapa menit tapi Sayyid Husein dapat langsung menjawabnya.
Jamaah yang tadi seakan tidak puas. Ia kembali bertanya: Apakah ada ayat lain yg menyebutkan angka selain 3, 4, 5, 6? Setelah beberapa detik Sayyid Husein menjawab: Dengan 5000 malaikat yg memakai tanda, itu surah Ali Imron ayat 125. Adakah angka yang lebih dari itu? Seperti 100.000 bahkan di atasnya? Dan kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih, itu surah As Shoffat: 147… Masya Alloh … teriak jamaah berbarengan.
Di sela-sela dialog tsb Sayyid Thoba Thoba bercerita bagaimana Al Quran sangat mewarnai tingkah polah putranya tersebut. Seseorang pernah bercerita kepada kami bahwa dirinya memohon doa darinya dan dijawabnya dengan membaca ayat: Saufa Astagfiru Lakum Robbi, kemudian orang itu menyinggung masalah taufiq dan dijawabnya : Wa ma taufiqi illa billah alaihi tawakaltu wa ilaihi unibu. Kemudian beberapa minggu lalu ..Al Haj Ali seorang hafidz datang bertamu ke rumah kami untuk bertemu dan menguji kemampuannya. Di akhir pertemuan itu .. beliau mengajaknya untuk menghadiri sebuah acara, beliau bertanya: Apakah kamu mau menghadirinya? ia menjawab: Kalau ayahku mengizinkan aku akan datang.
Ulama itu kembali berkata: Aku akan membelikan kamu baju bagus supaya kamu kenakan, apakah kamu senang dengannya? Anak saya menjawab: … Walibasut Taqwa Dzalika Khair (Pakaian Taqwa adalah yg Terbaik), mendengar ayahnya menceritakan hal ini Sayyid Husein tersipu malu.
Disadur Dari berbagai sumber.

Fakta Ilmu Laduni: Anak Afrika 1,5 Tahun Hafal dan Mengerti Al-Qur’an


Bukti Ilmu LADUNI : Anak (5 tahun) dari keluarga non muslim – hafal al quran dan fasih 5 bahasa – islamkan ribuan orang
Anak berumur lima tahun berbicara dalam lima bahasa : Inggris, Perancis, Italia, Swahili dan bahasa Arab – meskipun dia benar-benar tidak berpendidikan.
Pada umur satu tahun dia dapat membaca Al-Quran dan melanjutkan untuk dapat berkhotbah dalam bahasa Arab, bahasa Swahili dan Perancis tanpa belajar apapun.
Kata-kata pertama anak itu:  “Anda orang bertobat dan Anda akan diterima oleh Allah” adalah dalam bahasa Arab.
Dia juga dilaporkan Hafal Al Quran (hafal seluruh Al-Quran ) pada usia satu setengah tahun dan juga shalat 5 kali sehari pada usia itu.
Anak ini dilahirkan dalam sebuah keluarga kristen dan mereka kemudian menjadi muslim ….
Banyak sekali ditemui  di Nigeria sebagai seorang anak muda pada usia 5 tahun bisa berbicara fasih bahasa Arab. Namun pada  umur 5 tahun  dengan dengan tanpa pengajaran ini adalah ajaib. Dia (anak ini)  dapat membaca Quran juga dan memberikan pesan cramah tentang Islam.
Ini adalah keajaiban Islam, Sheikh Sharifuddin lahir dalam keluarga Kristen tetapi quran-hafiz yang (tahu penuh Qur’an) pada usia 1,5 tahun dan mendirikan shalat 5 kali sehari. keajaiban Sheikh Sharifuddin berbicara dalam banyak bahasa, dan dengan pidatonya telah membawa banyak orang  untuk menerima Islam.HARUS MENONTON VIDEO INI – KEAJAIBAN ISLAM LAIN- Subhanallah…..
Kunjungi, “Child Imam Miracle” Nak, video keajaiban lain saya. Video yang diambil dari azgarkhan. Lebih Tag dan Info.
Ia dilahirkan dalam keluarga non-Muslim, mulai membaca Namaaz (Muslim Doa) oleh sendiri. Miracle dalam keluarga non-Muslim. Anak ini tiba-tiba beralih ke Islam tanpa bantuan orang lain. Dia tahu banyak tanpa belajar , benar-benar ajaib!.
Catatan: Islam tidak perlu mukjizat untuk membuktikan diri sendiri, melainkan untuk ANDA,  untuk melihat tanda-tanda dan merasakan kebenaran. Mukjizat terbesar adalah Al Qur’an itu sendiri.